RADARTANGSEL – Mantan Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Partai Demokrat ternyata memiliki tanggal ulang tahun yang sama yakni 9 September.
Pada tahun ini, SBY merayakan ulang tahun ke-73 sedangkan Partai Demokrat memasuki usia yang 21 tahun pada tahun 2022 ini pascadiresmikan pada September 2001 silam.
Kabiro Pemberantasan Korupsi Departemen III Hukum dan HAM DPP Partai Demokrat Dedy Dwi Yuliantyo mendoakan SBY senantiasa diberi kesehatan, kesuksesan dan kedamaian oleh Allah SWT.
“Selamat ulang tahun yang ke-73 Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono,” ucap dia kepada RADARTANGSEL, Kamis (8/9/22).
Lebih dalam, Alumni PPRA LXII Lemhannas RI Tahun 2021 itu menegaskan bahwa akan senantiasa menjunjung tinggi amanah dari Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat SBY.
Selain itu, Ketua Kajian Hukum dan Perundang-undangan DPP Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) itu juga menegaskan bahwa seluruh kader Partai Demokrat tetap tegak lurus dengan komando Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Sejumlah Fakta Tentang SBY

SBY Jago Ciptakan Lagu
Selain dikenal dengan kepiawaiannya dalam mengatur negara, SBY ternyata juga adalah sosok yang memiliki jiwa seni tinggi.
Hal tersebut dibuktikan melalui banyak lagu yang pernah dibuatnya. Lagu-lagu itu bahkan dinyanyikan oleh para penyanyi kondang Indonesia.
Sebut saja lagu “Hening” yang dinyanyikan Widi Mulia dan “Mengarungi Keberkahan Tuhan” yang dinyanyikan oleh Ebiet G.Ade.
Lagu-lagu buatan mantan Presiden Indonesia ini umumnya bertemakan perdamaian dan kasih sayang. Selama menjabat dua periode sebagai Presiden RI, pria kelahiran Pacitan ini sudah merilis lima album istimewa.
Album pertamanya bertajuk RINDUKU PADAMU yang dirilis tahun 2007 silam. Menyusul EVOLUSI yang diluncurkan pada tahun 2009 silam. Belum cukup sampai di situ, album KU YAKIN SAMPAI DI SANA juga dirilisnya tahun 2010 lalu.
Karya terakhir yang dirilisnya adalah album Harmono “Alam Cinta dan Kedamaian di tahun 2011” dan “Album Kumpulan Lagu-lagu Terbaik karya SBY”.
Dengan kemampuan bermusiknya, nama SBY terukir dalam buku Museum Rekor Indonesia (MURI).
Dia kemudian menerima penghargaan MURI karena keterlibatan SBY sebagai pencipta lagu terbanyak di Indonesia. Ada sekitar 40 lagu dan 5 album yang telah ia buat sendiri hingga saat ini.
SBY Pandai Melukis
Baru-baru ini, SBY memperlihatkan ketertarikannya pada lukisan. Bahkan, memamerkan lukisan karyanya sendiri dalam acara ‘Mengenang Almarhumah Ani Yudhoyono’ di JCC Senayan, Jakarta, Minggu (19/6/2022). SBY berkisah tentang alasannya mulai menekuni hobi barunya tersebut.
“Kenapa saya melukis? Bagi saya, melukis ini bagaikan menghidupkan hobi lama saya,” kata SBY dalam video yang ditayangkan dalam acara tersebut.
SBY menuturkan masa kecilnya ia habisnya untuk aktif di dunia seni dan olahraga. Dirinya dan teman-temannya mendirikan sanggar seni.
Dirinya belajar banyak hal dalam sanggar seni tersebut, mulai seni musik, pewayangan, drama, puisi dan lukis. “Jadi 50 tahun terputus saya melukis, saya mengenang itu,” ucapnya.
Bagi SBY, melukis mendatangkan kedamaian dan ketenangan hati. Ketenangan tersebut sangat ia butuhkan ketika dirinya menjalani hari-hari berat saat ditinggalkan istri tercinta.
“Dengan melukis, saya bisa mengespresikan hati, pikiran, dan mimpi-mimpi saya di atas kanvas melaui cat akrilik dan minyak. Itu betul-betul menenangkan hati saya, membawa kedamaian bagi hati saya,” ungkapnya.
SBY Tak Lagi Pakai Instagram Sendiri
SBY kini sering menggunakan Instagram @aniyudhoyono dan tidak lagi menggunakan Instagramnya sendiri. Di tahun 2019, dia dan keluarga sepakat untuk tetap menghidupkan media sosial milik mendiang istri demi mengingat kenangan indah.
“Sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan kepada Almarhumah Ibu Ani, sejak hari ini, Pak SBY & keluarga mengaktifkan kembali akun instagram @aniyudhoyono dengan nama ‘Ani Yudhoyono In Memoriam’,” tulis SBY dalam twitnya pada Minggu (1/12/2019).
Mengonfirmasi pengaktifan akun tersebut, Staf Pribadi SBY, Ossy Dermawan mengatakan harapan pengaktifan akun Instagram Ibu Ani Yudhoyono dari pihak SBY dan keluarga yakni agar dapat membagikan nilai kehidupan dari mendiang Ibu Ani.
“Harapannya, Insya Allah, SBY dan keluarga beserta tim akan terus melestarikan dan menghidupkan berbagai nilai (values), pemikiran dan ‘legacy’ almarhumah,” ujar Ossy dikutip dari Kompas.com, Minggu (1/12/19).
Menurutnya, dengan mengaktifkan kembali akun Instagram Ibu Ani juga diharapkan dapat menghidupkan kenangan manis dan mengobati kerinduan kepada almarhumah Ani Yudhoyono.
SBY dapat Gelar dari Ratu Inggris dan Korea Selatan
Sekitar tahun 2012, SBY mendapatkan penghargaan Knight Grand Cross in the Order of the Bath dari Ratu Elizabeth II.
Ada 3 kelas dari Order Bath, dan “Knight Grand Cross in the Order of the Bath” merupakan kelas yang tertinggi.
Selain SBY, penghargaan tersebut juga pernah diberikan pada pemimpin-pemimpin asing, seperti Jacques Chirac (mantan Presiden Perancis), Ronald Reagen (Presiden Amerika Serikat), dan Abdullah Gul (Presiden Turki).
Selang dua tahun kemudian, SBY pun mendapatkan penghargaan The Grand Order of Mugunghwa dari Korea Selatan. Penghargaan tersebut diberikan secara langsung oleh Presiden Korea Selatan, Park Geun Hye di sela-sela kunjungan SBY.
SBY mendapatkan gelar The Grand Order of Mugunghwa. The Grand Order of Mugunghwa merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Korea Selatan kepada setiap orang yang telah banyak memberikan kontribusi kepada Korea Selatan.
Penghargaan tersebut diberikan oleh Presiden Korea Selatan, Park Geun Hye karena SBY dinilai telah banyak memberikan kontribusi terhadap peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan.
Berikut Biodata Lengkap Mantan Presiden SBY
Nama Lengkap
Dr. Susilo Bambang Yudhoyono
Alias
SBY | Beye
Agama
Islam
Tempat Lahir
Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur
Tanggal Lahir
Jumat, 9 September 1949
Zodiak
Virgo
Warga Negara
Indonesia
Ayah
Pembantu Letnan Satu (Peltu) Raden Soekotjo
Ibu
Sitti Habibah
Istri
Kristiani Herawati
Anak
Agus Harimurti Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono
Saudara
Nurcahyo Anggorojati
Biografi
Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden Republik Indonesia keenam. Berbeda dengan presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono merupakan presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004.
Ketika duduk di bangku kelas lima, untuk pertama kalinya SBY kenal dan akrab dengan nama Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang, Jawa Tengah. SBY kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri Pacitan. Sejak kecil, SBY bercita-cita untuk menjadi tentara dengan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) setelah lulus SMA akhir tahun 1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, SBY tidak jadi masuk AKABRI dan akhirnya dia menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November Surabaya (ITS).
Lulusan terbaik AKABRI (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949. SBY adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Pembantu Letnan Satu (Pelyu). Sementara ibunya, Sitti Habibah adalah putri salah seorang pendiri Ponpes Tremas. Pendidikan Sekolah Rakyat adalah pijakan masa depan yang paling menentukan bagi SBY.
Namun kemudian, SBY justru memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Sewaktu belajar di PGSLP Malang itulah, Susilo Bambang Yudhoyono mempersiapkan diri untuk masuk kembali ke AKABRI. Tahun 1970, akhirnya SBY masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung.
Perjalanan karier militer SBY dimulai dengan memangku jabatan sebagai Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (Komandan Peleton III di Kompi Senapan A, Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Kostrad) tahun 1974-1976, membawahi langsung sekitar 30 prajurit. Kefasihan dalam berbahasa Inggris, membuatnya terpilih mengikuti pendidikan lintas udara (airborne) dan pendidikan pasukan komando (ranger) di Pusat Pendidikan Angkatan Darat Amerika Serikat, Ford Benning, Georgia, 1975.
SBY satu angkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa pendidikan, SBY yang mendapat julukan Jerapah, sangat menonjol. Terbukti, ketika dia meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya. Seusai menamatkan pendidikan militer pertamanya, SBY kemudian masih melanjutkan study militernya dengan pergi belajar ke beberapa universitas militer ternama.
Sekembalinya ke tanah air, SBY memangku jabatan Komandan Peleton II Kompi A Batalyon Linud 305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad) tahun 1976-1977. Beliau pun memimpin Pleton ini bertempur di Timor Timur. Sepulang dari Timor Timur, SBY menjadi Komandan Peleton Mortir 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977). Setelah itu, beliau ditempatkan sebagai Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), dan Paban Muda Sops SUAD (1981-1982).
Selanjutnya, SBY dipercaya menjabat Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988) dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988), sebelum mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI-AD (Seskoad) di Bandung dan keluar sebagai lulusan terbaik Seskoad 1989. SBY pun sempat menjadi Dosen Seskoad (1989-1992), dan ditempatkan di Dinas Penerangan TNI-AD (Dispenad) dengan tugas antara lain membuat naskah pidato KSAD Jenderal Edi Sudradjat.
Ketika Edi Sudradjat menjabat Panglima ABRI, SBY ditarik ke Mabes ABRI untuk menjadi Koordinator Staf Pribadi (Korspri) Pangab Jenderal Edi Sudradjat (1993). Ada banyak sekali jabatan militer yang kemudian dijabat oleh SBY, puncaknya adalah ketika dia dipercaya bertugas ke Bosnia Herzegovina untuk menjadi perwira PBB (1995).
SBY menjabat sebagai Kepala Pengamat Militer PBB (Chief Military Observer United Nation Protection Force) yang bertugas mengawasi genjatan senjata di bekas negara Yugoslavia berdasarkan kesepakatan Dayton, AS antara Serbia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina. Setelah kembali dari Bosnia, beliau diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Jaya (1996). Kemudian menjabat Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda dan Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998) sebelum menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI (1998-1999).
Di tahun 2000, SBY memulai langkah politiknya dengan untuk memutuskan pensiun lebih dini dari militer. SBY kemudian ditunjuk untuk menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi selama masa pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid.
Tak lama kemudian, SBY harus meninggalkan posisinya sebagai Mentamben karena Gus Dur memintanya menjabat Menkopolsoskam. Pada tanggal 10 Agustus 2001, Presiden Megawati mempercayai dan melantik SBY menjadi Menko Polkam dalam Kabinet Gotong-Royong.
Tetapi pada 11 Maret 2004, SBY memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Langkah pengunduran diri ini membuatnya lebih leluasa menjalankan hak politik yang akan mengantarkannya ke kursi puncak kepemimpinan nasional.
Pada pemilu Presiden yang dilakukan secara langsung untuk pertama kalinya, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih kepercayaan mayoritas rakyat Indonesia dengan perolehan suara di atas 60 persen. Dan pada tanggal 20 Oktober 2004 Susilo Bambang Yudhoyono dengan Jusuf Kalla dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6.
Pada 3 Juli 2013, SBY mendapat penghargaan Maha Dwija Praja Utama dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Penghargaan itu diberi saat Kongres XXI PGRI di Jakarta. Penghargaan tertinggi dari PGRI dipersembahkan pada tokoh yang memperjuangkan dan memartabatkan guru.
SBY dinilai perhatian pada nasib guru dengan mendeklarasikan bahwa guru adalah jabatan profesi pada 2004. Tahun 2005, disahkan UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Juga adanya sertifikasi guru dan tunjangan profesi guru mulai dibayar.
Pendidikan
Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) (1973)
American Language Course, Lackland, Texas AS (1976)
Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS (1976)
Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS (1982-1983)
Jungle Warfare School, Panama (1983)
Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984)
Kursus Komando Batalyon (1985)
Sekolah Komando Angkatan Darat (1988-1989)
Command and General Staff College, Fort Leavenwort, Kansas, AS
Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
Karir
Dan Topan Yonif Linud 330 Kostrad (1974 – 1976)
Dan Topan Yonif 305 Kostrad (1976 – 1977)
Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977 – 1978)
Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979 – 1981)
Paban Muda Sops SUAD (1981 – 1982)
Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983 – 1985)
Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986 – 1988)
Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
Dosen Seskoad (1989 – 1992)
Korspri Pangab (1993)
Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993 – 1994)
Asops Kodam Jaya (1994 – 1995)
Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia – Herzegovina (sejak awal November 1995)
Kasdam Jaya (1996 – hanya lima bulan)
Pangdam II/Sriwijaya (1996 – 1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda
Asospol Kassospol ABRI/wakil Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Umum MPR 1998)
Kassospol ABRI/Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI) (1998 – 1999)
Menteri Pertambangan dan Energi (sejak Oktober 1999)
Menteri Koordinator Politik Sosial Keamanan (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri), mengundurkan diri 11 Maret 2004
Presiden Republik Indonesia (2004 – 2009)
Presiden Republik Indonesia (2009 – 2014)
Penghargaan
Adi Makayasa (lulusan terbaik AKABRI 1973)
Tri Sakti Wiratama (Prestasi Tertinggi Gabungan Mental Fisik, dan Intelek), 1973
Satya Lencana Seroja, 1976
Honorour Graduated IOAC, USA, 1983
Satya Lencana Dwija Sista, 1985
Lulusan terbaik Seskoad Susreg XXVI, 1989
Dosen Terbaik Seskoad, 1989
Satya Lencana Santi Dharma, 1996
Satya Lencana United Nations Peacekeeping Force (UNPF), 1996
Satya Lencana United Nations Transitional Authority in Eastern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (UNTAES), 1996
Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, 1998
Bintang Yudha Dharma Nararya, 1998
Wing Penerbang TNI-AU, 1998
Wing Kapal Selam TNI-AL, 1998
Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, 1999
Bintang Yudha Dharma Pratama, 1999
Bintang Dharma, 1999
Bintang Maha Putera Utama, 1999
Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003
Bintang Asia (Star of Asia) dari BusinessWeek, 2005
Bintang Kehormatan Darjah Kerabat Laila Utama dari Sultan Brunei
Doktor Honoris Causa dari Universitas Keio, 2006
Penghargaan Maha Dwija Praja Utama dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) 2013.
