35 C
Tangerang Selatan
Jumat, Juni 19, 2026

Hidup Prihatin, Begini Keseharian Orang Tua Siswi yang Tinggal di Bedeng Tanpa Listrik

Rekomendasi

RADARTANGSEL – Kartajaya (57) dan Asni (45) bertekad menyelesaikan pendidikan sekolah putri bungsunya Kardila (15) yang masih duduk di kelas 3 SMPN 11, Rawa Buntu, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel).

 

Mereka hidup dalam keprihatinan. Tak ada aliran listrik dalam bedeng yang letaknya diapit antara kebun singkong dan tepian curam tanah merah. lokasinya persis di sisi dinding pembatas milik pengembang di Kampung Ciater, Rawa Mekar Jaya, Serpong.

Selain bekerja sebagai sekuriti perumahan, Karta juga menghabiskan banyak waktu untuk berkebun di samping bedengnya. Tanaman singkong yang digarap di atas lahan pengembang itu tak banyak, hanya sekira 10 baris dengan luas tak sampai 100 meter.

“Kalau kerja lagi libur, ya inilah kita ngerjain singkong, macul, nanam singkong. Entar kalau udah jadi, udah gede, kadang-kadang daunnya bisa dijual, kita kumpulin kalau udah banyak kita jual. Kalau udah ada buahnya ya buahnya kita jual,” tutur Karta, Rabu (28/09/22).

Hasil penjualan tanaman singkong digunakan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Seikat daun singkong rata-rata dibeli seharga Rp 500, sedang buah singkong dijual seikhlasnya pada pembeli yang datang.

“Seikhlasnya aja. Singkong juga kalau dicabut (buahnya) nggak dihargain, yaudah kita kasih terus dia ngasih ke kita, kadang ngasih Rp 5 ribu,” imbuhnya.

Jika waktu petang tiba, Karta dan istri sibuk bergantian turun ke bawah menuju sumber air milik perumahan.

Keduanya menenteng ember besar, lalu mengambil air di sana guna kebutuhan mandi hingga memasak. Jarak sumber air lumayan jauh, yakni sekira 200-an meter dengan sebagian jalan menurun tajam.

“Kalau saya paling satu dua ember udah cukup, karena kaki saya nggak kuat naik ke atasnya. Nanti gantian sama istri atau anak saya,” ucapnya.

Keadaan itu jadi motivasi tersendiri bagi Kardila. Dia terus tegar belajar meski dihimpit keterbatasan. Semua dilakukan agar kelak cita-citanya menjadi seorang dokter terwujud, hingga bisa merubah nasib keluarganya.

“Cita-cita saya mau jadi dokter, biar bisa bantu orang yang sakit, bisa bahagiain orang tua juga,” ungkap Kardila.

Guna menopang kebutuhan sekolah Kardila, sang ibu pun merencanakan untuk berjualan. Sebuah meja kayu kecil dilapisi alas berwarna putih telah disiapkan di depan bedeng.

“Rencananya mau jual nasi uduk, nanti paling di komplek bawah,” ucap Asni.

Kardila merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara. Ketiga kakaknya semua tak bersekolah. Keluarga ini mulai tinggal di rumah bedeng beberapa bulan lalu, semenjak menunggak dan tak sanggup lagi membayar sewa kontrakan Rp 600 ribu per bulan.

Bedeng itu terbuat tambal sulam, dari kayu dan bambu bekas. Sebelum dibangun di atas lahan pengembang, Karta mengaku telah meminta izin lebih dulu ke pengurus lingkungan agar bisa tinggal di sana sementara waktu. (dmy)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini