30.8 C
Tangerang Selatan
Rabu, Mei 13, 2026

Waspadai Rebound Covid-19 yang Dialami Joe Biden

Rekomendasi

RADARTANGSEL –  Presiden Amerika Serikat Joe Biden sempat sembuh dari COVID-19 namun mengalami rebound sehingga kembali positif. Mengapa rebound COVID-19 ini bisa terjadi? Apa saja gejalanya dan apakah berbahaya bagi pasiennya?

Biden sempat sembuh dari COVID-19 tapi empat hari kemudian kembali positif setelah melakukan tes PCR. Fenomena ini diduga merupakan fenomena rebound karena terapi obat Paxlovid. Menurut dokter kepresidenan Kevin O’Connor, kondisi tersebut sebagai kasus ‘rebound positif’.

Presiden berusia 79 tahun itu rutin mengonsumsi Paxlovid sesuai cara minumnya yaitu dua kali sehari selama lima hari. Setelah mengonsumsi obat itu, ia sembuh dan gejalanya membaik. Namun ketika di tes PCR, ia kembali positif tapi tanpa gejala.

Fenomena rebound ini umum terjadi pada sekitar 10 persen pasien yang diberikan obat Paxlovid. Pasien dapat sembuh dan negatif, tapi dalam waktu dekat muncul gejala lagi dan terdeteksi positif lagi. Uniknya, pasien rebound ini kembali menular jadi harus mendapat isolasi lagi.

Paxlovid adalah pengobatan kombinasi yang menggunakan dua antivirus berbeda yakni Nirmatrelvir dan ritonavir. Nirmatrelvir bekerja untuk mencegah replikasi virus. Ini dilakukan dengan menghentikan enzim virus yang disebut protease.

Lara Herrero pemimpin penelitian di bidang Virologi dan Penyakit Menular di Griffith University, mengungkapkan, SARS-CoV-2, seperti banyak virus, mengandalkan protease untuk ‘mengaktifkan’ mereka. Tanpa protease, siklus replikasi virus tidak dapat diselesaikan dan virus tidak dapat aktif. Jadi, alih-alih ‘membunuh’ virus, ia menghentikan partikel virus ‘aktif’ baru yang dibuat.

“Ritonavir adalah ‘agen penguat’ yang mencegah metabolisme nirmatrelvir, yang berarti nirmatrelvir tetap berada di sistem Anda lebih lama. Ritonavir telah digunakan dalam dosis rendah untuk meningkatkan efektivitas antivirus protease lainnya pada infeksi seperti HIV,” kata Lara mengutip dari The Conversation dan CNA.

Pengobatan Paxlovid melibatkan penggunaan dua tablet nirmatrelvir 150mg dan satu tablet ritonavir 100mg, secara bersamaan, setiap 12 jam selama lima hari. Seperti semua antivirus, penting untuk memulai pengobatan Paxlovid sesegera mungkin setelah diagnosis COVID. Ini perlu dilakukan dalam waktu lima hari sejak timbulnya gejala, sehingga dapat mengurangi replikasi virus dan dengan demikian mengurangi penyebaran virus di dalam tubuh.

Dalam uji klinis, Paxlovid menunjukkan pengurangan 89 persen dalam risiko rawat inap dan kematian. Tidak ada kematian yang tercatat di antara mereka yang menerima perawatan. Dibandingkan dengan orang dalam penelitian yang tidak menerima obat, pengobatan Paxlovid juga mengurangi viral load ketika diukur pada hari kelima penelitian.

Dr RA Adaninggar SpPD dalam akun Instagram-nya @drningz menjelaskan fenomena ini akibat efek obat anti-virus. Menurut dia, Paxlovid adalah salah satu anti-virus yang bisa diminum atau oral yang bisa digunakan bagi pasien COVID-19 gejala ringan atau sedang dengan efektivitas yang cukup baik dalam menekan gejala berat dan kematian.

Saat ini Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS masih merekomendasikan Paxlovid sebagai pengobatan yang efektif untuk COVID-19 pada orang yang berisiko tinggi untuk penyakit parah.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini

escort bayan sakarya Eskişehir escort bayan