RADARTANGSEL – Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas ingin Kementerian Agama dapat mengoptimalkan peran layanan keagamaan kepada umat. Karenanya, Menag akan menyeimbangkan anggaran untuk fungsi pendidikan dan keagamaan.
“Di masa kepemimpinan saya, saya ingin menyeimbangkan antara urusan pendidikan dan keagamaan. Ada prioritas tertentu yang harus ditekankan sebagai urusan Bimas keagamaan,” ujar Menag saat memberi sambutan pada Rakernas Bimas Islam di Cilegon, Kamis (3/3).
Hadir, Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, para staf khusus Menteri Agama, pejabat eselon II Ditjen Bimas Islam, serta Kabid Urais Kanwil Kemenag Provinsi se-Indonesia.
Anggaran Kementerian Agama selama ini didominasi untuk urusan pendidikan. Tercatat tidak kurang 80 persen anggaran Kemenag untuk fungsi pendidikan.
Sebanyak 20 persen lainnya untuk urusan keagamaan yang terdistribusi ke Bimas Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, serta Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu.
Kesenjangan anggaran ini akan diupayakan oleh Menag untuk diseimbangkan. Apalagi, nama kementerian ini adalah Kementerian Agama, bukan kementerian pendidikan.
“Kita akan terus berusaha dengan berbagai cara agar masalah anggaran ini bisa terpecahkan. Tidak terlalu jauh gap nya dengan pendidikan, kita coba dekatkan,” pesan Yaqut.
Menag mengungkapkan bahwa Ditjen Bimas adalah etalase Kementerian Agama. Untuk itu, ASN pada Ditjen Bimas harus mampu memberikan pelayanan keagamaan yang prima kepada masyarakat.
“Jangan sampai saat ada masyarakat yang ingin dilayani, kita tidak berada dalam posisi sempurna untuk melayani. Dirjen Bimas Islam harus mampu menjadi ujung tombak Kemenag,” tandasnya.
Selain itu, Menag mengingatkan bahwa ASN Kemenag adalah pelayan masyarakat. Sebagai pelayan, ASN harus dapat memberikan layanan terbaik dan prima kepada umat dan masyarakat. (BD)
