Gunung Rinjani merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl. Gunung ini merupakan salah satu gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. (foto: istimewa)

RADARTANGSEL – Dunia pariwisata di Indonesia bakal kembali bikin kejutan. Di Gunung Rinjani, gunung yang dianggap “terseksi” di Indonesia, bakal dibangun kereta gantung sebagai wahana baru untuk menikmati keindahan alam Rinjani.

Rencananya, proyek besar kereta gantung di Gunung Rinjani, yang berlokasi di Desa Lantan, Lombok Tengah, NTB, akan didanai oleh investor asal Tiongkok dengan nilai Rp 600 miliar. Perusahaan yang akan terlibat dalam pengerjaan proyek ini adalah PT Indonesia Lombok Resort.

Rumornya, dengan panjang kurang lebih 10 Kilometer, kereta gantung Gunung Rinjani digadang-gadangkan bakal menjadi kereta gantung terpanjang di dunia. Pihak investor pun dikabarkan tengah melengkapi data dan dokumen master plan terkait pembangunan kereta gantung ini.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nusa Tenggara Barat (NTB), H Madani Maukrom, lokasi kereta gantung tidak berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), melainkan berada di blok pemanfaaan jasa wisata pada kawasan taman hutan raya (tahura) dan hutan lindung areal KPH.

BACA JUGA :   Somasi Dicuekin, Ade Armando Polisikan Sekjen PAN

“Yakni mulai dari Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah menuju kawasan hutan lindung di bagian atasnya,” tutur H. Madani, seperti yang dikutip Tribunnews.com (20/6).

Tapi, rencana pembangunan kereta gantung yang bakal terkenal ini ternyata menuai kontra dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB. Mereka meminta pemerintah daerah mengkaji lebih dalam soal dampak lingkungan yang akan terjadi jika kereta gantung tersebut benar-benar terealisasi, mengingat kawasan tersebut adalah geopark yang telah masuk daftar UNESCO.

“Kita tahu sama-sama ini kawasan hutan, kami minta lebih hati-hati mengkaji dampak lingkungannya dan harus lebih ketat,” ungkap Dwi Sudarsono, anggota Dewan Nasional Walhi NTB.

Menurut Dwi, lokasi proyek gantung di Rinjani ini lebih sulit dan merusak ekologi. Terlebih, ada perbedaan karakter pada kawasan yang menjadi lokasi proyek kereta gantung dengan kereta gantung yang ada di negara Swiss.

BACA JUGA :   Pemerintah Kembangkan Sarana Transportasi Berstandar Internasional di Batam

“Gunung mereka kan bersalju, kemudian keras. Sedangkan gunung Rinjani ini berbeda. ini kawasan hutan, agak susah nanti membongkar lahan untuk lokasi pembuatan tower kereta,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Dwi, penting untuk mengkaji proyek tersebut dari sisi dampak ekonomi dan sosial bagi warga kaki Gunung Rinjani yang selama ini hidup dari wisata Rinjani. “Ini kan seolah-olah berpotensi mematikan pendakian jalur utara dan timur di Rinjani,” katanya.

Walhi NTB pun mewanti-wanti pihak investor dan pemda untuk harus memiliki klausul jika ada kerusakan hutan yang terjadi akibat pembangunan kereta gantung di Gunung Rinjani.

Menanggapi peringatan dan masukan dari Walhi, Gubernur NTB Zulkieflimansyah mengatakan bahwa saat ini teknologi sudah cukup maju sehingga dapat menghindari kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkan.

BACA JUGA :   Kapolri Ingin Pos Penyekatan Kabupaten dan Kota di Babel Dioptimalkan

“Tentu kan ada catatannya bagaimana supaya tidak membahayakan lingkungan. Concern-nya kan jangan sampai hutan dirusak,” ujarnya saat menghadiri peresmian gelar tani di Mataram beberapa waktu.

Saat ini Pemda NTB Bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih terus mengkaji soal anasilis dampak lingkungan (AMDAL) terhadap proyek pembangunan kereta gantung tersebut. (BD)

Artikulli paraprakDiah Pitaloka Dukung Enam Bulan Cuti bagi Ibu Melahirkan
Artikulli tjetërAsosiasi Sepak Bola Jerman Cetak Rekor Jumlah Anggota Terbanyak