RADARTANGSEL – Ada kabar bagus untuk kaum Hawa, khususnya bagi para perempuan pekerja. Baru-baru ini, durasi waktu cuti hamil dan melahirkan yang semula hanya tiga bulan (tertuang dalam UU Nomor 13 Tahun 2003) telah berubah menjadi enam bulan dan masa waktu istirahat 1,5 bulan untuk perempuan pekerja yang mengalami keguguran. Hal tersebut ada pada Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA).

Selain memuat masa cuti bagi ibu yang melahirkan, RUU KIA juga mengatur bahwa para ibu yang cuti melahirkan akan tetap mendapat gaji penuh untuk tiga bulan pertama dan gaji 75 persen untuk 3 bulan berikutnya.

Bahkan, para ibu juga berhak mendapatkan cuti yang diperlukan untuk kepentingan terbaik bagi anak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ada pula pasal dalam RUU KIA yang mengatur bahwa setiap ibu menyusui berhak mendapatkan waktu dan tempat untuk menyusui selama waktu kerja serta kemudahan dalam menggunakan sarana dan fasilitas umum.

BACA JUGA :   Puan Maharani Kecam Keras Penculikan Anak di Jakarta-Bogor

Tidak hanya sampai di situ. Bahkan RUU KIA juga mengatur hak cuti suami untuk mendampingi istri yang melahirkan atau mengalami keguguran. Sebab, mengacu pada Pasal 6 Ayat (1) RUU KIA, disebutkan bahwa suami berhak mendapatkan cuti pendampingan melahirkan selama paling lama 40 hari atau cuti pendampingan keguguran paling lama 7 hari.

Isi RUU KIA, khususnya soal cuti melahirkan bagi ibu, tentunya mendapat respons positif dari berbagai pihak, terutama dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Menurut Komisioner KPAI Retno Listyarti, aturan mengenai lama cuti melahirkan paling sedikit enam bulan yang termuat dalam RUU KIA sudah ideal.

“Adanya cuti melahirkan yang cukup ideal akan membuat seorang ibu yang baru melahirkan memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik dan anak pun bisa terjaga dan terawat dengan baik,” tutur Retno, seperti yang dikutip Kompas.com (16/6).

Tapi, Retno melanjutkan, jika cuti tadi dianggap perusahaan terlalu lama, maka setidaknya seorang pekerja perempuan yang akan melahirkan sudah cuti sebulan sebelum tanggal perkiraan melahirkan dan 3 bulan setelah melahirkan.

BACA JUGA :   Komunikolog: Prabowo Lebih Cocok Jadi King Maker Ketimbang Jadi Capres

Sebab, kata Retno, ketika hamil 8 bulan, maka tubuh si ibu akan semakin berat. Kondisi tersebut membuat seorang ibu hamil kesulitan bernafas, susah tidur, hingga kelelahan. Untuk mengatasinya harus memperbanyak istirahat, hal ini merupakan kunci untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya.

Retno menambahkan, kalaupun si ibu harus bekerja, apalagi dengan perjalanan jauh dan naik kendaraan umum, maka kemungkinan si ibu akan sangat kelelahan. Oleh karena itu, solusi agar tetap bugar dan sehat adalah mengambil cuti minimal sebulan sebelum melahirkan.

“Maka mengambil cuti pada masa-masa ini bisa memberikan kesempatan pada ibu yang melahirkan untuk istirahat, memulihkan diri, dan focus merawat bayi dengan memberikan ASI ekslusif. ASI sangat dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembangnya yang optimal,” papar Retno.

Ketua DPR RI Puan Maharani menyetujui meminta dukungan masyarakat Indonesia dalam merealisasikan RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA). Saat ini, dia tengah memperjuangkannya bersama jajaran DPR RI dan pemerintah.

BACA JUGA :   IPU ke-144, Puan Maharani Bicara Peran Parlemen dalam Kedaruratan Medis

“Kami di DPR sedang memperjuangkan UU yang mengatur tentang cuti bagi ibu yang melahirkan. Teknisnya sedang dibahas di DPR dengan pemerintah,” kata Puan dalam acara Gebyar Inovasi Pelayanan Kesehatan Rakyat di Sekolah PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, seperti yang dikutip detik.com, Sabtu (18/6).

Dia menuturkan kedekatan ibu dan anak menjadi hal terpenting dalam menjaga pertumbuhan anak. Karena itu, cuti enam bulan kerap dibutuhkan.

Cuti tiga bulan, kata Puan, dinilai cukup untuk membangun kedekatan dengan anak. Namun ibu yang sudah melahirkan butuh waktu lebih lama untuk berperan sekaligus menjaga keseimbangan anak.

“Tiga bulan memang cukup, tapi kalau bisa enam bulan, kenapa tidak? Tiga bulan selanjutnya nanti apakah ibu itu WFH jadi bisa terus-terusnya sama anak, bisa memberi ASI dan keluarga juga bisa ikut berperan. Jadi ibu-ibu bekerja tetap mengurus anaknya, tutur Puan. (BD)

Artikulli paraprakAirNav Apresiasi Langkah Konkret Penyidik Atas Kasus Pelanggaran UU Penerbangan
Artikulli tjetërWow! Rayu Skriniar, PSG Siap Lipatgandakan Gaji