Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Petrus Reinhard Golose (foto: istimewa)

RADARTANGSEL – Beberapa pekan lalu, Thailand resmi membolehkan penggunaan ganja untuk kepentingan medis dan kosmetik bagi warga negaranya. Dengan kebijakan itu Thailand menjadi negara Asia Tenggara pertama yang melegalkan ganja untuk kepentingan medis dan kosmetik.

Selain Thailand, ada beberapa negara lain yang telah terlebih dahulu mengadopsi kebijakan legalisasi ganja, antara lain Kanada, Italia, Australia, Argentina, Belanda, Meksiko, Uruguay, dan beberaa negara lainnya.

Sementara di Indonesia sendiri, wacana melegalkan tanaman ganja sebagai bahan obat-obatan juga pernah dibahas oleh Panitia Kerja (Panja) Komisi III DPR bersama Kementerian Hukum dan HAM terkait permohonan judicial review terhadap Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 kepada Mahkamah Konstitusi.

BACA JUGA :   Fase Pemulangan mulai 15 Juli, Ini Ketentuan Barang Bawaan Jamaah Haji

Akan tetapi, pemerintah Indonesia memberikan pertimbangan bahwa penggunaan ganja di bidang kesehatan tidak lebih banyak manfaatnya dibandingkan dengan penyalahgunaannya. Pemerintah beranggapan bahwa ada alternatif penyembuhan lain selain menggunakan ganja.

Dan baru-baru ini, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, Petrus Reinhard Golose, menegaskan bahwa pihaknya tetap konsisten menolak legalisasi ganja di Indonesia. Menurut Petrus, tidak ada pembahasan legalisasi ganja di Indonesia walaupun di negara lain hal tersebut sudah dibahas.

“Dalam rancangan revisi undang-undang narkotika, kami tidak memasukkan poin penghapusan ganja dari daftar narkotika satu,” tutur Petrus saat pembukaan event “Smash On Drugs” di Kampus Universitas Udayana, Jimbaran, Bali, seperti yang dikutip Kumparan (19/6).

BACA JUGA :   Real Madrid Juara Laliga 2021/2022

Petrus juga menjelaskan, meski sudah ada sejumlah negara yang melegalisasi ganja tetapi ada lebih banyak negara yang menolak legalisasi ganja.

Negara sebesar Amerika Serikat saja, kata Petrus, juga belum seluruhnya melegalkan ganja, tapi hanya ada di beberapa negara bagian saja. Sebab, ganja sangat berbahaya jika dikonsumsi, terutama oleh generasi muda.

“Jadi, kita tahu bahwa di ganja ada dua THC dan CBD itu ada dua bagian. Namun, kita tahu seperti di Amerika Serikat, itu federal-nya masih melarang, state-nya membolehkan. Tapi itu, biarkan di negara yang lain,” papar Petrus. (BD)