Indonesia saat ini masih fokus mengejar capaian vaksinasi dosis ketiga atau booster hingga mencapai 70 persen dari total populasi. (foto: istimewa)

RADARTANGSEL – Berdasarkan data yang diterima dari Satgas Covid-19 pada Minggu (19/6) pukul 15.37 WIB, saat ini sudah penambahan kasus virus corona sebanyak 1.167 kasus. Sebelumnya, Sabtu (19/6), kasus positif Covid-19 bertambah 1.264 kasus. Bertambahnya 1.167 kasus pada hari Minggu (19/6) menjadikan total kasus Covid-19 di Indonesia telah mencapai angka 6.068.075 kasus.

Kenaikan kasus Covid-19 sendiri mulai terlihat sejak tiga pekan terakhir. Juru bicara Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito pun telah meminta masyarakat untuk kembali waspada dengan kembali menegakkan protokol kesehatan.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin telah memperkirakan lonjakan kasus yang disebabkan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 akan terjadi pada bulan Juli mendatang.

BACA JUGA :   GP Spanyol: Leclerc Tercepat dengan Waktu Satu Menit 19,670 Detik

Ia juga memprediksi puncak kasus di Indonesia akan berada pada kisaran 20 ribu kasus per harinya, yang akan terjadi pada minggu kedua atau ketiga di bulan Juli. Prediksi tersebut ia sampaikan berdasarkan pengalaman saat menghadapi subvarian sebelumnya.

Menurut Budi, di Afrika Selatan sebagai negara pertama ditemukannya kasus BA.4 dan BA.5, angkanya memasuki puncak saat sudah 1/3 dari puncaknya Omicron atau Delta sebelumnya.

“Jadi kalau kita delta dan omicron puncak kasusnya di 60 ribu kasus per hari, kira-kira nanti estimasi berdasarkan data di Afrika Selatan mungkin puncaknya kita di 20 ribu kasus per hari, karena kita penah sampai di 60 ribu kasus per hari paling tinggi,” ungkap Budi.

BACA JUGA :   Kapolri Ingin Tarik 56 Pegawai KPK yang Tak Lolos TWK jadi ASN

Melihat angka kasus Covid-19 di atas yang kembali menunjukkan peningkatan, meskipun tidak separah tahun 2020 dan 2021, akhirnya muncul wacana apakah perlu booster vaksin dosis keempat?

Menurut Ketua Kelompok Penasihat Teknis Indonesia tentang Imunisasi/ Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Sri Rezeki Hadinegoro, Indonesia saat ini masih fokus mengejar capaian vaksinasi dosis ketiga atau booster hingga 70 persen.

Jadi, kata Sri, kalaupun di negara-negara lain sudah ada pemberian vaksin keempat, hal itu bisa dilakukan karena vaksinasi dosis ketiganya sudah mencakup 70 persen. “Makanya mereka lanjut ke yang empat,” katanya, seperti yang dikutip voaindonesia.com (18/6).

Jika pemerintah memaksa melakukan vaksinasi dosis keempat, padahal masih ada orang yang belum mendapatkan vaksin COVID-19 sama sekali, menurut Sri Rezeki, hal itu malah bisa membahayakan.

BACA JUGA :   Pesan Grace Natalie kepada Tsamara Amany setelah Mundur dari PSI, Sangat Menyentuh

Lebih jauh Sri menjelaskan, apabila cakupan vaksinasi dosis ketiga sudah mencapai 70 persen dari target populasi, maka akan diteliti lebih lanjut apakah memang pemberian dosis keempat diperlukan atau tidak.

Sebab, kata Sri, masing-masing negara memiliki keadaan epidemiologi yang berbeda-beda sehingga kebijakan dan penanganannya juga dipastikan akan berbeda satu sama lain.

“Negara kita dibandingkan dengan Singapura saja sudah beda. Jadi tiap negara tentu mempunyai strategi tersendiri. Kita tidak bisa mengikuti orang lain, tetapi panduan umum oleh WHO, itu yang kita pakai,” tutur Sri. (BD)

Artikulli paraprakBNN Tetap Tolak Legalisasi Ganja di Indonesia
Artikulli tjetërSurvei TBRC: Menko Airlangga Tokoh dengan Kebijakan Paling Bermanfaat