oleh

Jadi Sekjen PKP, Said Salahudin ingin Wujudkan Persatuan Bangsa

Radar Tangsel-Terpilih jadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Keadilan dan Persatuan (PKP), Said Salahudin ingin mewujudkan persatuan bangsa. Hal itu terungkap dalam “Pernyataan Terbuka Said Salahudin” yang dikirim ke awak media.

Radar Tangsel.Com termasuk salah satu media siber (online) yang dikirim pernyataan terbuka oleh Said, baru-baru ini.

“Sebagai wujud tanggung jawab moral kepada publik, saya perlu menyampaikan secara terbuka kepada masyarakat bahwa saya telah memilih jalan baru perjuangan memperbaiki sistem kenegaraan melalui pintu partai politik,” ujar Said dalam pernyataan terbukanya.

Ia pun melanjutkan, saat ini ia resmi ditunjuk sebagai sekjen PKP. “Saat ini, saya secara resmi telah ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Keadilan dan Persatuan (PKP), yang sebelumnya bernama Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Sebuah partai politik yang memiliki ratusan kursi DPRD yang tersebar di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Mantan direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma) ini, melalui PKP, ia ingin mewujudkan persatuan bangsa. “Melalui partai yang didirikan oleh para tokoh bangsa ini, di antaranya Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, Wakil Presiden Indonesia ke-6, saya berkomitmen untuk sekuat tenaga memperjuangkan cita-cita para pendiri negara, antara lain mewujudkan ‘persatuan’ bangsa, dengan seerat-eratnya, sekukuh-kukuhnya,” tukasnya.

Said pun mengemukakan alasan mengapa akhirnya ia harus terjun ke dunia politik praktis. “Saya merasa risau dan terganggu dengan munculnya polarisasi politik di bumi Indonesia yang sudah berlangsung cukup lama dan telah menimbulkan keretakan sosial di antara elemen masyarakat,” urainya.

Atas dasar kegelisahan yang mendalam pada kondisi bangsa itulah, ia terdorong dan memutuskan untuk terjun ke dalam partai politik dengan memilih PKP sebagai alat perjuangan. “Hari ini berkobarlah saya punya semangat yang ingin juga saya tularkan kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama berjuang membangun persatuan di bumi Indonesia. Bersama saya, bersama PKP, Rumah Besar Para Pejuang,” tandas pemerhati dan narasumber politik, hukum, dan kepemiluan nasional itu.

Dirinya menegaskan, semua harus mengesampingkan kepentingan pribadi. “Kita harus melenyapkan kepentingan diri sendiri. Hanya dengan jalan demikianlah kita dapat membentuk negara Indonesia merdeka yang kekal-abadi, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Demikian pesan Dr. Radjiman Wedyodiningrat yang harus selalu kita ingat,” paparnya.

Kata Said, Soesanto Tirtoprodjo pernah mengingatkan, sejarah negara kita telah memberi pelajaran bahwa jatuhnya bangsa Indonesia ke dalam lumpur penjajahan ialah adanya perceraian diantara bangsa kita sendiri. “Hal ini hakikatnya terjadi karena selain musuh yang dari luar, ada pula musuh yang datang dari dalam hati kita sendiri, yaitu egoisme dan sifat-sifat perseorangan. Tabiat egoisme itulah yang harus bisa kita atasi,” cetusnya.

Oleh sebab itu kita memerlukan persatuan. Persatuan berarti bebas dari perselisihan antara golongan (Sosrodiningrat). Marilah kita sekalian yang cinta pada tanah air, berduyun-duyun berjabat tangan. Diikat oleh perasaan cinta-mencitai, harga-menghargai satu sama lain, tak pandang apa agamanya. Kita harus bersatu, senasib sepenanggungan (Wiranatakoesuma),” ungkap Said.

Pesan dari para penyusun dasar negara itulah yang menguatkan tekat dirinya untuk memulai perjuangan baru ini, merajut keharmonisan diantara seluruh komponen masyarakat yang heterogen, demi mewujudkan persatuan bangsa. “Pesan itu pula yang selalu diingatkan Ketua Umum PKP Mayjen TNI Marinir (Purn) Yussuf Solichien, seorang prajurit Sapta Marga, mantan komandan pasukan khusus Denjaka kepada seluruh kader PKP. Petuahnya PKP harus menjadi partai politik pemersatu, dan harus menjadi simbol persatuan,” terang mantan ahli hukum tata negara dan hukum administrasi negara pada sejumlah perkara partai politik dan Pemilu di Mahkamah Konstitusi dan Pengadilan Tata Usaha Negara itu.

Akhirnya, Said pun menutup pernyataannya. “Saya tutup Pernyataan Terbuka ini dengan mengutip perkataan Sukarno. Berkata Putra Sang Fajar: Persatuan membawa kekuatan, kekuatan membawa persatuan. Siapa tidak bersatu, tidak kuat. Siapa tidak kuat, tidak bersatu. Dharma eva hato hanti,” tutup Said. (AGS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed